Rating 4/5

Raditya Dika kembali menelurkan karya terbaru pada 1 Februari 2018. Sesuatu yang telah lama aku tunggu di tengah kesibukannya menyutradarai film layar lebar, syuting youtube, membintangi iklan, mengisi workshop menulis, standup comedy, memersiapkan pernikahan dan sederet aktifitas lain.


Buku ini masih sama seperti semua buku sebelumnya, yaitu kumpulan cerita sehari2 Radit. Bedanya, ketika buku pertama Kambing Jantan dulu berisi murni kisah hidupnya yang masih kocak dan random, buku ini menceritakan posisi Radit yang sudah menjadi "selebriti, seniman" seperti sekarang.

Aku yang mengikuti perjalanan hidupnya dan membaca seluruh bukunya, merasa betul ada pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi dalam dirinya. Aku selalu yakin bahwa orang yang sukses dari bawah, akan tetap bisa rendah hati meskipun kini ia telah memiliki penghasilan milyaran (mungkin?) dan hidup di tengah2 bisnis yang gemerlap.

Buku ini antara lain berisi tentang pertemuan dan perpisahannya dengan Kathu, mantan tetangga dari India; tentang orang2 yang tetap dan berubah setelah sekian tahun; tentang patah hati kecil; tentang percakapan dengan Prilly Latuconsina, aktris yang tengah naik daun; tentang nostalgia pada seorang nenek di Jepang; tentang rasanya menjadi orang terkenal; dan tentang ia yang akhirnya percaya hantu setelah syuting film Hangout.

Awalnya aku skeptis dengan buku tipis yang mahal ini (231 hal, 66 ribu), apakah masih tetap komedik. Ternyata sampai tengah2, aku tetap bisa tersenyum dan menangis sekaligus. Radit tetap jadi orang jujur yang menulis dari hati. Tulisan dari hati akan sampai ke hati juga.

Bacaan ini cocok dilahap sekali duduk. Aku membacanya 4 jam di dalam kereta Kdr-Jkt.

Buku ini juga inspiratif. Sepertinya aku menemukan gol baru untuk diraih tahun ini. Sweet book, Radit! ❤
Dilan, apa kamu tahu hal yang lebih berat daripada merindui Milea?
Menjadi wanita, Dilan.
Iya, menjadi wanita.


Wanita itu harus tangguh dari hari ke hari.
Harus bisa menjalani hidup mandiri.
Harus berjuang sendiri, jika seluruh dunia berbalik menyerangnya.

Nggak boleh capek,
Boro-boro lengah,
Apalagi payah.

Kudu kuat, tahan banting, juga cantik.
Tetap berperangai lembut, berwibawa nan bersahaja.

Dilan, setiap bagian tubuh wanita itu bisa menjadi fitnah.
Jangankan wanita berpakaian seronok. Milea yang kamu lihat cuma jalan kaki menuju sekolah saja bisa merebut perhatianmu. Ya mungkin rambut panjangnya memang indah sih. Badannya bagus, betisnya mulus, juga parasnya menawan.

Tapi aku sungguh pernah melihat temanku yang berhijab tertutup mulai atas sampai kaus kaki, disuitin dan digoda oleh lelaki ketika ia melintas di hadapan mereka.

Bukan hanya wanita dewasa, tapi juga anak2 perempuan jadi korban.
Tetangga desaku belasan orang disetubuhi kawan remaja lelakinya tanpa bisa melawan dan takut melapor.
Tadinya aku geram. Tapi diagnosis psikiater, ia kelebihan hormon seksual, hingga harus dipondokkan dan minum obat untuk mengendalikan birahinya.

Dilan, teman2ku juga baru saja menangani kasus seorang guru tua lelaki yang menggerayangi payudara dan kemaluan belasan murid2 perempuan SD nya di kelas, di hadapan murid lainnya.
Ia memang akhirnya dipecat, tapi para gadis cilik tak berdaya itu kadung terluka.

Menjadi wanita itu berat, Dilan.
Cara bayi keluar dari alat kemaluannya pun diatur dalam undang2 tak tertulis masyarakat.
Melahirkan normal dianggap lebih heroik daripada cesar.
Padahal yang bisa merasakan perihnya perut dibelek atau vagina dijahit itu ya cuma wanita itu sendiri.

Cara air keluar dari susunya pun dibahas dan diperdebatkan. Anak ASI melulu lebih hebat daripada anak susu formula.
Sampai aku menjadi saksi mata saudaraku nyaris baby blues karena air susunya tak kunjung keluar dan bayinya menangis meraung. Hati siapa tak teriris?
Makanya lalu ada ibu baru melahirkan bayi merah lalu bunuh diri bersama2 karena tekanan sekitar.

JANGAN JADI WANITA, Dilan. Itu berat. Kamu nggak akan kuat. Biar aku saja.

Rating 4/5.

Ini buku @andreahirata__ pertama yang kubaca tuntas. Dulu sempat membaca beberapa halaman Laskar Pelangi dan urung melanjutkan karena sudah keduluan nonton filmnya. Apalagi setelah itu Sang Pemimpi dan Edensor juga rilis di bioskop.

Novel dengan tiga alur yang berbeda, yang membuat bingung di awal. Baru setelah halaman 80an ke atas, aku mulai bisa menikmati pelintiran-pelintiran plotnya. Antara plot Tara dan Tegar, plot Hob dan Instalatur Suruhudin, juga plot si pohon delima.

Aku rasa, Andrea menabrak banyak sekali tatanan EYD dan tata tulis baku bahasa Indonesia. Banyak kata berulang dalam satu kalimat, pemisahan dan penggabungan kata yang semena-mena, juga penempatan tanda baca seenak jidat. Tapi justru itu yang membuat menarik. Rasa bahasa yang berbeda dari novel kebanyakan.

Sirkus Pohon cerita soal fenomena yang umum terjadi (bersetting di tanah Melayu) dengan analogi sebuah sirkus. Walau juga ada cerita tentang pertunjukan sirkus betulan juga di dalamnya. Bagaimana Tuhan membuat rencana-rencana rahasia yang sulit dipahami manusia, yang kalau dipikir-pikir mirip sirkus: unik, tak terduga, bikin deg-degan, dan terkadang berakhir manis ataupun pahit. Suka-suka sutradaranya.

Secara umum aku bisa menikmati buku ini dan mengakui kepiawaian Andrea dalam mengolah kata.

Btw, Museum Kata Andrea Hirata di Belitung bagus loh. Pariwisata Belitung moncer sejak Laskar Pelangi booming. Bukunya telah diterjemahkan dalam 40 bahasa dan diedarkan ke 130 negara. Aku sudah jatuh cinta duluan dengan sosok Andrea sebelum membaca karyanya. Ahey!

Rating 4/5.

Buku pertama Leila S. Chudori yang kubaca. Pasti setelah ini kupertimbangkan untuk membaca novelnya yang lain berjudul Pulang.

Sejak tahu Leila adalah wartawati majalah berita Tempo dari 1989 hingga sekarang, sudah kuduga sosok Nadira yang menjadi sentral cerita ini tak jauh2 dari kehidupan asli dia. Leila yang pernah kuliah di Victoria, Kanada, barang tentu fasih sekali menceritakan detail seting di sana. Juga soal suka duka menjadi reporter dan kehidupan jurnalistik Indonesia.

Membaca novel ini seolah suram sekali. Gelap, sedih, getir, dan penuh teka-teki. Entah kenapa kecepatan membacaku menurun. Mungkin spasi antar baris yang lebih rapat, atau alur yang butuh dicerna lebih baik.

Aku membayangkan Leila membuat plot maju-mundur dengan repot sekali. Tokohnya banyak. Alurnya banyak. Setiap tokoh tak luput dari pendeskripsian yang unik mengenai sebab-akibat dari suatu kejadian.

Ada alur soal Kemala dan Bram tahun 1963, lalu meloncat ke alur ketika Kemala mati bunuh diri tahun 1991, kemudian tahun 1974 ketika Arya, Nina dan Nadira masuk masa remaja, hingga tahun 2011 yang menjadi pungkasan cerita.

Tokoh Utara Bayu sang pimred majalah Tera, Tito sang konglomerat, Niko Yuliar sang aktivis dan penyair, Gilang Sukma si koreografer dan Satimin si office boy turut diceritakan dengan menarik.

Secara psikologis, novel ini membantu pembaca untuk menyadari bahwa tidak ada penyebab tunggal dari suatu kejadian. Ada benang ruwet di belakang kisah masing2 orang yang saling berkait dan menyumbang munculnya sebuah pemikiran, perasaan dan perbuatan tertentu. Apakah akhirnya Nadira tahu alasan ibunya memutuskan mengakhiri hidup?

Mbak Leila, you made it!
Selasa, 14 Maret 2017.

Selepas shalat Dhuhur jam 14.00 WIT, perut saya keroncongan. Sebetulnya sudah ngantuk dan lelah dengan senam jantung soal penginapan yang ternyata terletak di Lorong Arab, sebuah gang sempit yang tidak kearab-araban sama sekali di Ambon, Maluku. Namun waktu menuju senja masih panjang. Rugi rasanya jika hanya dihabiskan untuk tidur di penginapan.

Dengan menahan rasa kantuk dan membulatkan tekad, saya menyiapkan tas punggung. Laptop dan dompet ditinggal di dalam koper, di tengah-tengah tumpukan baju, menggembok, dan menyimpan kuncinya baik-baik. KTP selalu saya bawa, dengan asumsi jika terjadi apa-apa, misal kecelakaan atau meninggal, orang akan dengan mudah mengenali identitas saya. Tidak perlu protes soal ini, karena seperti itulah yang saya pikirkan setiap kali bepergian. Bersiap untuk hal terburuk sekalipun. Saya hanya membawa uang receh beberapa puluh ribu karena memang tidak berencana beli-beli, hanya ingin jalan kaki dan menikmati Ambon sore sendirian.

Saya mengganti sepatu kerja dengan sandal jepit seharga Rp 13.000,- di toko kecil ujung Lorong Arab, di daerah Waihaong. Saya mencari-cari makanan halal apa yang sekiranya ada di sekitar sana. Mie ayam cukup menggoda untuk mampir ke kedai yang sepi, di sebelah Masjid Raya Al-Fattah. Harganya Rp 15.000,- dan masih cocok untuk kantong.

Benteng Victoria yang Menipu
Setelah kenyang, saya membuka google map dan melacak keberadaan Benteng Victoria yang dijanjikan mbak resepsionis sangat dekat dengan hotel. Ternyata benar, hanya 3 menit berjalan kaki dari tempat saya makan. Saya kembali ke Lorong Arab yang sebelah selatan, dan memanglah benar bahwa di Indonesia masih buruk soal fasilitas untuk para pejalan kakinya. Trotoar dipenuhi orang-orang yang menjajakan dagangan atau sekedar menggeret kursi untuk duduk santai sambil mengobrol dengan temannya. Di tepi jalan yang sempit, mobil-mobil pengunjung/ tamu/ pembeli berparkir paralel dari ujung ke ujung. Saya terpaksa harus berkali-kali melihat ke belakang karena khawatir terserempet kendaraan yang lewat. Tampak ada lebih dari sepuluh penginapan di sana. Beberapa namanya pernah saya baca di internet selama proses pencarian penginapan kemarin. Saya asumsikan, mereka adalah penginapan murah yang memang dikhususkan untuk tamu yang tidak terlalu mencari fasilitas mewah. Hanya sekedar numpang tidur. Bahkan saya bertemu dengan backpacker dari Batam yang juga menginap di Lorong Arab dengan harga kamar Rp 80.000,-/malam. Haha kalah jauh saya kalau soal berani-beranian tidak nyaman begitu.

Saya yang terbiasa berjalan agak cepat, terus mengikuti arahan dari google map. Sampai di persimpangan, saya bingung ini petanya mengarah kemana. Tampak sudah dekat betul, tapi saya tidak melihat ada tanda-tanda, plang, atau tulisan benteng apapun di sana. Berbekal nekat, saya belok kiri. Agak jauh, kok malah melenceng dari peta. Bahkan sampai mentok lagi ke pelabuhan. Saya tanya mbak-mbak yang sedang parkir di SPBU dimana letak Benteng Victoria, dia hanya menggeleng. Keanehan pertama terjadi. Oke, saya memutuskan untuk berbalik arah dan mengikuti peta lagi. Saya tanya ke mas-mas penjaga toko, tapi cukup dongkol karena mendapat jawaban serupa. Ketika petunjuk di map sudah dekat, ternyata saya kembali ke titik awal ketika saya bingung tadi. Oh, saya jadi bisa mengimajinasikan bentuk daerah itu. Dimana penginapan saya, dimana pelabuhan, dan dimana perempatan sumber nyasar tadi. Bentuknya kotak saja.

Akhirnya saya memutuskan belok kiri, tapi mentok juga. Bapak-bapak bilang dekat SPBU khusus marinir. Sudah ketemu SPBU nya, tapi kok ya cuma seperti itu, tidak tampak benteng sama sekali. Belok kiri sekali lagi untuk mencari orang yang bisa ditanyai, ada ibu-ibu yang mengangkat bahunya ketika saya tanya. “Ibu asli orang sini?” tanya saya jengkel. Padahal google map saya jelas-jelas sudah membunyikan “You are arrived!” Tiga orang saya temui dan tidak ada jawaban yang memuaskan. Akhirnya saya bertemu dengan anggota TNI dan dia bilang masuk bentengnya dari depan. Saya berputar sekali lagi, mencari mana depan yang dimaksud si bapak. Melewati ATM BRI, belok kiri, ada pos penjagaan di sana. Saya mengatakan ingin mengunjungi benteng Victoria, mereka ganti bertanya saya siapa dan ada keperluan apa. Lhah!

Sebetulnya malas sekali menjelaskan saya dari blablabla, untuk tujuan blablabla ke Ambon, dan seterusnya. Tapi daripada nanti dibedhil senjata laras panjang di pundak mereka, terpaksalah saya beramah-tamah dalam kondisi kaki setengah mau copot seperti itu. Saya hanya mengatakan berasal dari Jawa dan ingin cari tempat wisata, googling, nemulah nama Benteng Victoria, dan ingin melihatnya. Sesederhana itu. Bapak penjaga piket bilang, saya masih harus jalan lurus, nanti ada pos piket lagi di dalam. Kok aneh ya? Ke dalam, berarti saya masuk ke kompleks TNI dong? Karena penasaran, jalan lagilah saya. Di pos dalam, ditanya ulang saya ini siapa, dari mana, mau apa ke benteng. “Wartawan, ya?” tebaknya. “Bukaaaaaan! Saya cuma orang biasa pak, mau jalan-jalan aja, mau lihat benteng yang terkenal di internet itu loh!”

Ternyata oh ternyata, lokasi Benteng Victoria memang di dalam kompleks TNI dan harus ada surat izin dari pos piket sebelah entahlah mana lagi. Kecuali saya berombongan, akan lebih mudah memintakan surat izinnya. Dulu memang pernah dibuka untuk umum, tapi sekarang tidak. Seperti menjadi lokasi yang dilindungi ketat. Saya yang melihat jam sudah semakin sore, tidak sudi untuk jalan ke pos selanjutnya hanya untuk ditanya hal serupa dan dioper-oper lagi demi mendapatkan surat izin masuk benteng.

Jadi, apakah saya merekomendasikan Benteng Victoria untuk dikunjungi selama di Ambon? TENTU TIDAK! Kecuali Anda datang berombongan, dengan tujuan tertentu yang “jelas”, memiliki surat izin dari pos piket yang resmi, atau memberitahukan akan kunjungan Anda beberapa hari sebelumnya, bolehlah mencoba keberuntungan ke sana. Jadi kalau ingin lihat gambar bentengnya seperti apa, cari di internet sendiri ya, hehehe. 

Taman Pattimura (Pattimura Park), Lokasi Pahlawan Nasional Thomas Matulessy Digantung
Berjarak seperseberangan jalan dari Kompleks TNI yang bikin sewot, ada Taman Pattimura yang terkenal. Saya yang tidak suka sejarah, seolah baru tersadar kembali bahwa Pattimura alias Thomas Matulessy adalah pahlawan yang berasal dari Ambon, Maluku. Dan tersadar untuk ke dua kalinya, bahwa Pattimura meninggal dengan cara digantung pada tahun 1817, kemudian konon jenazahnya ditenggelamkan di lautan. Tidak ada makam Pattimura di Ambon.

Tamannya luas, dengan pohon-pohon besar di sekelilingnya. Ada dua lapangan basket yang biasa dibuat olahraga para pemuda Ambon, tepat di depan patung yang berdiri menjulang kokoh seolah menyebarkan semangat untuk terus berjuang sampai akhir hayat ini. Di bawah patung, ada relief yang menceritakan perjuangan Pattimura zaman dahulu. 


Lapangan Pattimura
Yang paling bikin merinding, di prasastinya yang dibuat pada 15 Mei 2008 dan ditandatangani oleh Walikota Ambon pada saat itu, Drs. M. J. Papilaja, MS, tertulis seperti ini:
“Pattimura Park (Taman Pattimura) ini adalah apresiasi penghargaan atas semangat kejuangan Kapitan Pattimura dan kawan-kawan, agar kita selalu mengingat pesan terakhir Kapitan Pattimura sebelum menaiki tiang gantungan pada tahun 1817 di tempat ini, bahwa “Beta akan mati..., tapi nanti akan bangkit Pattimura-Pattimura muda yang akan meneruskan beta punya perjuangan...”

Relief yang menceritakan Pahlawan Pattimura digantung



Wow! Saya menarik nafas panjang. Perjuangan yang gigih dan impian yang optimis. Tidak mengenal takut, dan lebih memilih mati daripada harus menyerah pada penjajah Belanda. Hati rasanya gerimis. 

(bersambung)
Jujur, perasaan saya campur aduk saat membayangkan akan jalan-jalan sendirian satu setengah hari berikutnya di pulau yang baru kali pertama saya injak, tanpa saudara tanpa teman. Mules-mules sedap. 

Sejak semalam sebelumnya, saya sudah sibuk selancar di internet penginapan murah di Ambon Kota, yang berjarak sekitar 30 menit perjalanan darat dari Teluk Ambon tempat kami menginap saat itu. Saya yang tidak terbiasa menggunakan aplikasi tertentu untuk mencari penginapan, sepenuhnya mengandalkan arahan dari google. Di laman pertama memang dipenuhi oleh situs ternama seperti pegipegi.com, traveloka.com, agoda.com, dan trivago.co.id. Mereka memang mengkhususkan diri untuk mencari, membandingkan, serta memesan tiket pesawat maupun hotel secara daring (online). Saya masuk ke situs-situs tersebut hanya untuk mengetahui harga penginapan serta review dari para pengunjungnya. Penting untuk melihat kondisi kamarnya juga. Enggan saja dapat hotel murah tapi ternyata malah tidak bisa tidur nyenyak setelah lelah seharian beraktivitas.

Prinsipnya, saya mencari harga penginapan di bawah Rp 200.000,-/malam. Tidak ada penganggaran khusus ketika merencanakan extend alias memperpanjang waktu bepergian di sana. Yang jelas, harus berhemat sedapat mungkin. Jika ada harga yang memenuhi budget, saya akan mencari alamat dan nomor teleponnya. Termasuk juga melihat melalui google map, dimana letak penginapannya dan dekat dengan lokasi wisata apa saja. Akan lebih bagus jika bisa dijangkau dengan jalan kaki. 

Saya menelepon beberapa penginapan murah. Beberapa mengangkat telepon dan beberapa tidak. Ada yang sudah cocok dengan lokasi dan kamarnya, ternyata harganya masih Rp 275.000,-/malam. Tentu itu terlalu mahal buat kantong. Akhirnya saya deal memesan Golden Inn seharga Rp 175.000,-/malam. Dan ternyata, harga termurah tersebut ada di lantai... enam! Tanpa lift! Wajib memastikan bahwa akan ada room boy yang akan membantu mengangkat koper saya seberat 10 kilogram setinggi enam lantai. Yah, walaupun tidak ada, toh akan tetap terpaksa mengangkat koper sendirian demi menghemat pengeluaran.

Pesan penginapan beres.

Saya dan teman-teman menyempatkan untuk singgah di toko besi putih, yang merupakan kerajinan khas Ambon. Selepas dari sana, saya diantar ke Golden Inn, calon penginapan yang saya pesan melalui telepon. Rupanya di Ambon pun banyak jalan satu arah, sehingga jika tampak dari toko tersebut ke penginapan hanya beberapa menit perjalanan menurut google map, menjadi berputar-putar dan agak lama. “Lorong Arab”, begitu pesan mbak resepsionis penginapan untuk memudahkan mencari daerahnya. Wow, terbetik di imajinasi, Lorong Arab adalah sederet kompleks tempat para ras Arab tinggal dan berwirausaha. Juga kuliner-kuliner Arab dan segala hal yang berbau sakral karena kearab-arabannya.

Kami melalui perempatan Tugu Trikora, lalu jalan-jalan padat kendaraan, Masjid Al-Fatah, dan... pelabuhan! Tertulis jelas Port of Ambon di sana. Saya mulai cemas karena google map masih menunjukkan jalan menuju gang-gang sempit penuh para lelaki yang menggotong barang ini itu, toko kayu gelondongan, toko kelontong kecil-kecil, mas-mas yang berkumpul duduk di depan toko sambil mengobrol santai, truk yang menurunkan dan memuat barang, dan para lelaki bertelanjang dada. Teman saya lima orang bergantian mengatakan sesuatu yang sangat tidak ingin didengar saat itu, seperti:
“Lho mbak, ini daerah apa?”, 
“Beneran mbak, penginapannya di sini?”, 
“Mana ya, kok belum sampai-sampai?”, 
“Ati-ati lho mbak, ini wilayah pelabuhan?”, 
“Jangan keluar sendirian kalau malam lho mbak. Pokoknya maksimal jam 9 malam harus sudah di penginapan lagi!”, 
“Yakin mbak, mau nginap di sini?”

Aaarrgghhh...

Pelabuhan Ambon
Sebelum mereka cemas, sebenarnya saya sudah cemas sendirian sejak semalam. Tapi tolong lah, jangan menambah kecemasan lagi berkali-kali lipat.

Akhirnya sampai juga kami di Golden Inn. Saya sendiri pun tidak menyangka bahwa Lorong Arab itu benar-benar menyerupai lorong beberapa lajur... tapi tanpa ada Arab-arabnya sama sekali! Konon memang dahulu wilayah itu dihuni oleh ras Arab beserta keturunannya. Sepertinya mirip wilayah Ampel-nya Surabaya. Tapi sekarang tidak lagi. Sudah bercampur baur dengan segala suku bangsa.

Saya menurunkan koper di depan penginapan yang lebih mirip ruko tujuh lantai dengan pintu besi yang cara membukanya digeser ke kanan dan kiri. Tarik nafas panjang, buang nafas, sambil berdoa bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun, ketika mata tertumbuk pada rak minuman di belakang resepsionis yang berjejer bir bintang dan minuman beralkohol, saya tidak tahu apakah akan baik-baik saja satu setengah hari ke depan atau tidak. Dengan senyum yang terpaksa dimanis-maniskan, saya melongok ke dalam mobil dan mengatakan kepada teman-teman bahwa memang ini penginapannya, sudah browsing, yakin aman, dan akan mempercayai intuisi yang datang. Jika merasa tidak aman, mencurigai sesuatu, atau melihat potensi bahaya, tentu akan segera ambil tindakan.

Setelah teman-teman pergi, saya dengan sok percaya diri menuju resepsionis. Mengatakan bahwa tadi pagi sudah menelepon dan booking kamar di lantai enam. Mencoba berlagak jadi traveler berpengalaman yang pemberani, padahal kaki dan hati sudah keder lebih dulu. Setelah membayar kamar, tiba-tiba ada telepon oleh salah seorang teman yang mengantar tadi, ibu-ibu. “Mbak Fatma, ini lho di dekat tugu ada penginapan yang lebih bagus. Jangan disana ah, ngeri!” Saya menjelaskan, ini penginapannya juga sudah bagus kok, bersih. Si ibu masih bersikeras, “Iya, tapi itu tadi lho, jalannya sempit, banyak orang laki-lakinya,saya khawatir ah Mbak! Pindah saja sudah, pindah Mbak!”

Aaarrrggghhh...

Berusaha mengabaikan kekhawatiran si ibu, saya bertekad untuk tetap menginap di sini saja. Untuk naik ke lantai enam, ada mas-mas staf hotel yang membantu membawakan koper. Saya memberinya tips atau uang lelah sekedarnya, dan dia menolak dengan malu-malu. Biasanya di hotel besar pun, room boy hampir tidak pernah menolak tips dari tamu. Ini masnya kok menolak dan cara memandang saya agak berbeda. Saya jadi parno sendiri.

Penampakan kamar Golden Inn. Bersih dan nyaman kok. Karena bangunan baru.
Kamar mandinya juga bersih dan modern. Cuma saya parno bayangin ada kamera tersembunyi yang siap ngintip :(
Lima belas menit kemudian, ada yang mengetuk kamar. Saya parno lagi. Tidak ada yang berkepentingan dengan saya langsung di pulau antah barantah ini. Tidak mungkin ada tamu pribadi. Saya tidak kenal satupun makhluk di kota. Toh kalau ada apa-apa, resepsionis bisa menelepon langsung dari bawah ke kamar. Saya membuka pintu, ternyata mbak staf hotel yang saya lihat di bawah tadi yang mengetuk. Dia bilang, apakah bisa meminta nomor ponsel saya. “Untuk apa?” tanya saya. Karena sejak booking penginapan, saya sudah memberikan nomor ponsel ke resepsionis. Dia bilang ini beda. Mas-room boy tadi yang meminta nomor ponsel. Saya kaget. Dengan sopan tapi menahan geram, saya menjelaskan bahwa nomor ponsel tamu tidak boleh diberikan ke sembarang orang dan saya tidak mau memberikannya karena bersifat privasi. “Oh begitu Mbak, ya sudah. Saya juga nggak tahu, masnya tadi pokoknya yang menyuruh saya untuk memintakan ke mbak. Masnya pengen kenalan sama mbak,” ujarnya polos.

Aaarrrggghhh...


Hari yang bikin deg-degan!
Jatah sarapan dari penginapan. Agak tidak manusiawi untuk perut. Sesuap langsung habis.
Makan malam cuma mampu beli indomie goreng telor ceplok 15 ribu. Nyesek tapi tetep nikmat.

(bersambung)