Perempuan itu menengadah pada langit yang basah. Rasa-rasanya sudah bertahun berlalu sejak ia mengenali wajah hujan yang megah. Ditutupkan matanya menikmati angin yang semilir menerpa ujung bajunya yang merah. Dingin tapi lubuknya gerah.

Pada suatu masa, perempuan itu pernah menantang Tuhan dengan pongah di atas sajadah tergenang air mata. Jika saja apa-apa yang melekat pada tubuhnya, yang dimilikinya, yang dilakukannya menyebabkan fitnah yang menyakitkan, ia meminta Tuhan untuk mengambilnya saja. Biarkan ia pada keadaan yang orang lain ingin lihat.

Pulang.
Tidak pernah ada dalam kamusku dulu bahwa aku akan kembali pulang. Ke kota kelahiranku, Kediri.
Cita-citaku dulu tinggi: lulus kuliah dengan nilai bagus kemudian bekerja di ibukota Jakarta.
Mendefinisikan kesuksesan sebagai berharta banyak, menaklukkan tantangan-tantangan di hiruk-pikuk kota besar.
Seperti teman-temanku terdahulu.
Keren adalah memiliki pekerjaan mentereng, berbaju parlente, bersepatu hak 10 senti, bergaji dua digit, dan ketika ditanya bekerja dimana, akan kujawab dengan penuh kebanggaan, “Jakarta!”
Sangat beruntung kemarin aku bisa mengikuti Safari Seminar Disiplin Positif yang diadakan oleh Sekolah Alam Ramadhani Kediri. Seperti halnya Gerilya Nonton Bareng Film “The Beginning of Life, aku merasa dua acara ini wajib ikut. Selain karena temanya sangat dekat dengan Psikologi, juga aku berpikir bahwa caraku dalam menghadapi anak-anak (iya, anak-anaknya orang) juga masih sering terlalu kaku, sesuka hati sendiri, keliru, terlalu memaksa, keras, pemahaman yang kurang menyeluruh, dan sebagainya. Ditambah dengan yang menginisiasi acara ini adalah Pak Bukik Setiawan (konon bernama asli Budi Setiawan Muhammad), dosenku dulu di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, tambah semangat lah aku.

Allaahu akbar.. allaahu akbar.. allaahu akbar..
Laa ilaaha illallaahu allaahu akbar..
Allaahu akbar wa lillaahil hamd..


Suara takbir bertalu-talu keluar dari pengeras suara mushalla di sekitar rumahku. Arak-arakan anak kecil membawa obor keliling kampung sudah rampung lewat sejam yang lalu. Dan aku masih di sini, di dalam kamar, memijat kaki ibuk yang keseleo akibat terjatuh dari tangga ketika akan ke kamar mandi tiga hari yang lalu.

Mungkin tidak ada yang menyangka bahwa aku mendambakan perjalanan ini selama 15 tahun terakhir dalam hidupku. Aku selalu bermimpi untuk terbang kembali ke belahan bumi timur Indonesia.

Ya, Papua.

Pertama (dan satu-satunya kepergian ke Papua saat itu) adalah ketika aku SMP. Berangkat naik kapal penumpang dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, berlayar dengan kepasrahan total apakah akan hidup atau mati di tengah samudera selama 7 hari 7 malam. Pulangnya naik pesawat Hercules, yang saat itu lazim untuk penerbangan awak sipil, mampir di Biak 1-2 malam entah untuk mengambil anggota TNI-AU atau loading barang penumpang, dan mendarat di bandara Iswahyudi Madiun.
DISCLAIMER: Harap tidak menjadikan tulisan ini sebagai bahan rujukan dalam menyusun karya ilmiah, baik oleh siswa maupun mahasiswa segala jurusan. Juga tidak untuk mendiagnosis sebuah penyakit. Penulis tidak memiliki latar belakang sama sekali di bidang kedokteran dan hanya menyarikan dari berbagai sumber untuk kepentingan pribadi. Data yang disajikan mungkin tidak valid karena keterbatasan sumber bacaan.

***

Rabu pagi ibuk akhirnya melakukan audiometri atau tes pendengaran di RS Gambiran.